ROFINUS REHE,S Ag.(Guru /SMAN I Nubatukan Lembata)5/3/2025
FK – Isi Kotbah:….Rabu Abu 5 Maret 2025
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Hari ini kita memulai masa Prapaskah dengan perayaan Rabu Abu. Ini adalah waktu istimewa yang diberikan Tuhan kepada kita untuk bertobat dan kembali kepada-Nya dengan segenap hati. Abu yang ditandai di dahi kita menjadi simbol kefanaan kita dan ajakan untuk memperbarui hidup kita: “Ingatlah, engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu” atau “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil”.
Masa Prapaskah adalah kesempatan untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan melalui tiga pilar utama: puasa, doa, dan amal kasih. Namun, inti dari semuanya adalah pertobatan yang sejati. Kita semua adalah manusia yang lemah dan penuh dosa. Tapi kabar baiknya adalah Tuhan tidak pernah menutup pintu bagi kita yang ingin kembali kepada-Nya.
Dalam bacaan pertama dari Nubuat Yoel (Yoel 2:12-18), Tuhan berseru, “Berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis, dan dengan mengaduh.” Seruan ini adalah ajakan agar kita tidak hanya melakukan pertobatan secara lahiriah, tetapi sungguh-sungguh menyesali dosa-dosa kita dari dalam hati.
Dalam Mazmur 51, kita berdoa bersama Raja Daud: “Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar.” Ini adalah doa penuh harapan bahwa Tuhan selalu siap mengampuni dan menyucikan kita.
Sementara itu, Rasul Paulus dalam 2 Korintus 5:20-6:2 mengajak kita untuk berdamai dengan Allah, karena sekaranglah saat yang tepat untuk menerima rahmat-Nya. Jangan menunda-nunda pertobatan kita!
Dan dalam Injil Matius 6:1-6, 16-18, Yesus menekankan bahwa pertobatan sejati bukanlah sesuatu yang kita lakukan untuk pamer di hadapan orang lain, melainkan harus berasal dari hati yang tulus dan penuh keikhlasan.
Sakramen Tobat: Jalan Menuju Pembaruan Diri
Salah satu sarana yang Tuhan berikan untuk memulai kembali hidup kita adalah Sakramen Tobat. Dalam sakramen ini, kita mengakui dosa-dosa kita di hadapan Allah melalui seorang imam, menyesalinya dengan sungguh, dan menerima absolusi yang menghapus dosa-dosa kita. Inilah bentuk rekonsiliasi kita dengan Allah dan sesama.
Saat ini adalah momen yang tepat untuk bertanya dalam hati:
- Apakah aku sudah menyadari kesalahan dan dosaku?
- Apakah aku sungguh menyesal dan ingin bertobat?
- Apakah aku sudah berdamai dengan sesama?
- Apakah aku sudah mendekatkan diri kepada Tuhan dengan doa dan perbuatan baik?
Saudara-saudari, jangan sia-siakan masa Prapaskah ini! Mari kita manfaatkan waktu ini untuk datang kepada Tuhan dalam Sakramen Tobat, membersihkan hati kita, dan memulai perjalanan baru bersama-Nya.
BILIK ABU: TOBAT DAN PENGHAPUSAN DOSA
Inspirasi dari Sakramen Tobat
Di sebuah desa kecil, terdapat sebuah gereja tua yang dikenal dengan nama “Bilik Abu”. Setiap tahun, saat Rabu Abu tiba, umat datang ke gereja untuk menerima abu sebagai tanda pertobatan. Namun, di gereja ini ada satu tradisi unik: sebelum menerima abu, umat terlebih dahulu masuk ke sebuah ruangan kecil di sebelah altar, yang disebut Bilik Tobat.
Bilik itu bukan sembarang ruangan. Di sana, umat merenungkan dosa-dosa mereka sebelum menghadap imam untuk menerima Sakramen Tobat. Bagi mereka, bilik itu menjadi tempat perjumpaan dengan Tuhan, tempat di mana mereka bisa meninggalkan dosa dan memulai hidup baru.
Bagian 1: Dosa Asal dan Kebutuhan akan Penghapusan
Suatu hari, seorang pemuda bernama Daniel datang ke gereja dengan hati yang gelisah. Ia merasa jauh dari Tuhan dan dipenuhi rasa bersalah. Sejak kecil, ia diajarkan tentang dosa asal—dosa yang diwarisi dari Adam dan Hawa. Tetapi selama ini, ia tidak pernah benar-benar memahami maknanya.
Seorang pastor tua, Romo Gregorius, menemuinya di bilik itu. Dengan lembut, ia berkata, “Daniel, dosa asal bukanlah kesalahan yang kita buat sendiri, tetapi keadaan dosa yang kita warisi. Inilah sebabnya kita menerima Baptisan, yang membersihkan kita dan menjadikan kita anak-anak Allah.”
Daniel termenung. Ia sudah dibaptis, tetapi hatinya masih merasa berat. “Romo, kalau dosa asal sudah dihapus saat Baptisan, mengapa saya masih merasa berdosa?”
Romo tersenyum, “Karena setelah Baptisan, kita masih bisa jatuh dalam dosa pribadi dan dosa publik. Itulah mengapa Tuhan memberi kita Sakramen Tobat, supaya kita bisa selalu kembali kepada-Nya.”
Bagian 2: Dosa Pribadi dan Jalan Kembali
Daniel mulai menangis. Ia mengakui banyak kesalahan yang ia buat: menyakiti orang tua, berkata kasar, dan tidak pernah berdoa lagi. Ia merasa hatinya semakin keras dan jauh dari Tuhan.
“Aku ingin kembali, Romo, tapi aku takut. Aku sudah terlalu banyak berbuat salah.”
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
