FKLewoleba, Nusa Tenggara Timur – Dalam semangat membangun pendidikan yang inklusif dan penuh kasih, SLB Negeri Lewoleba kembali menjadi sorotan. Paulus Geradus Hurint, S.T.,Gr., selaku Pelaksana Tugas (PLT) Kepala Sekolah SLB Negeri Lewoleba, dengan penuh ketulusan memohon uluran cinta dan perhatian dari Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Permohonan tersebut bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan demi kenyamanan dan kesejahteraan 21 siswa berkebutuhan khusus yang tinggal di asrama sekolah.

Melalui pantauan media di lokasi beberapa pekan lalu, kondisi asrama SLBN Lewoleba menunjukkan upaya gotong royong luar biasa dari para guru dan pegawai sekolah. Dari total 12 kamar tidur yang tersedia, 6 kamar di bagian tengah dan sayap barat telah dilabur atau dicat berkat kerja sama dan dedikasi para pendidik yang peduli.

Namun, enam kamar lainnya masih belum tersentuh karena keterbatasan dana.

Meski kondisi fisik asrama mulai diperbaiki secara perlahan, persoalan mendesak saat ini adalah kekurangan alat tidur.

Hingga kini, 21 siswa yang tinggal di asrama belum memiliki tempat tidur yang layak. Kamar-kamar masih kosong tanpa ranjang, kasur, maupun bantal.

“Kami membutuhkan bantuan berupa 21 unit tempat tidur, kasur, dan bantal untuk anak-anak kami. Kami sudah berusaha dengan dana yang tersedia, tetapi masih sangat kurang.

Kami sangat berharap perhatian dan kepedulian dari Bapak Gubernur dan Wakil Gubernur agar memberikan uluran cinta bagi anak-anak berkebutuhan khusus di SLBN Lewoleba,” ungkap Paulus Geradus Hurint dengan haru.

Permohonan ini bukan sekadar soal fasilitas, melainkan tentang martabat dan hak anak-anak istimewa untuk hidup layak dan belajar dalam lingkungan yang manusiawi. Sebagai lembaga pendidikan bagi siswa berkebutuhan khusus, SLBN Lewoleba memiliki peran penting dalam mencetak generasi yang tangguh, mandiri, dan mampu berkontribusi bagi masyarakat, apabila diberi dukungan memadai.

Ajakan ini tidak hanya ditujukan kepada pemerintah provinsi, tetapi juga kepada seluruh elemen masyarakat, instansi swasta, serta komunitas sosial yang peduli pada dunia pendidikan dan kemanusiaan.

“Kami percaya, ketika cinta dan kepedulian tumbuh dari banyak hati, anak-anak kami akan merasa dicintai, diterima, dan dihargai sebagaimana mestinya,” tutup Paulus dengan penuh harapan.

Mari kita semua bergandeng tangan, memberikan kasih nyata bagi anak-anak berkebutuhan khusus yang tengah berjuang meraih mimpi mereka di SLBN Lewoleba. Satu kasur, satu bantal, satu tempat tidur—bisa menjadi jembatan kasih dan harapan bagi masa depan yang lebih baik. (Rrr)

 

 

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.