FK – Prolog: Sebuah Renungan dari Tanah Merdeka
Delapan puluh tahun sudah Sang Saka Merah Putih berkibar di langit Nusantara. Delapan puluh tahun pula Pancasila menjadi ruh bangsa, digali dari bumi Indonesia oleh Bung Karno pada 1 Juni 1945, sebelum kemerdekaan diproklamasikan. Dalam rentang waktu itu, lima sila yang menjadi dasar negara bukan sekadar deretan kata dalam pembukaan UUD 1945, melainkan kompas moral, peta jalan hidup, sekaligus cermin dari harapan rakyatnya.
Kini, saat Indonesia menginjak usia 80 tahun, muncul satu pertanyaan penting: “Masihkah Pancasila berada dalam tangan isi bangsa Indonesia?” Bukan hanya dalam teks pidato atau prasasti, tapi dalam laku harian, kebijakan publik, dan relasi antarwarga.
Pancasila Dulu—Nilai Sakral di Tengah Perjuangan
Di awal kemerdekaan, Pancasila adalah semangat perlawanan. Sila pertama menjadi dasar melawan penjajahan yang menindas kebebasan beragama. Sila kedua menyuarakan hak setiap anak bangsa untuk dihargai martabatnya. Sila ketiga menyatukan suku-suku yang berbeda di Sabang hingga Merauke. Sila keempat menjunjung musyawarah di tengah perang dan konflik. Dan sila kelima menjadi impian bahwa kemerdekaan tak sekadar simbol, tapi harus membawa keadilan.
Bagi para pejuang, Pancasila adalah nafas dan detak jantung. Tidak ditawar, tidak disalahgunakan. Mereka berkorban demi hidup dalam sistem yang menghormati nilai-nilai luhur itu.
Pancasila Teruji—Antara Kekuasaan dan Rakyat
Tapi zaman berubah. Kekuasaan datang dan pergi. Presiden demi presiden memegang tampuk pemerintahan. Dan dalam pergantian itu, Pancasila sering kali diuji:
- Pernah disempitkan hanya sebagai alat kontrol ideologi (di era Orde Baru).
- Pernah dilupakan dalam euforia kebebasan pasca-Reformasi.
- Pernah dipolitisasi demi agenda kekuasaan.
Namun, Pancasila tetap bertahan. Tidak karena kekuasaan menjaganya, tapi karena rakyat kecil tetap mempercayainya. Di pelosok desa, di warung kopi, di ruang kelas, nilai-nilai gotong royong, toleransi, dan keadilan tetap hidup.
Pancasila Hari Ini—Antara Ceramah dan Kenyataan
Di usia 80 tahun Indonesia, Pancasila kini banyak digaungkan kembali. Ada Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Ada program penguatan karakter Pancasila. Tapi di sisi lain, kenyataan di lapangan masih menyakitkan:
- Diskriminasi atas dasar agama dan keyakinan masih ada.
- Kesenjangan sosial masih membentang lebar, dari kota ke desa, dari elite ke rakyat.
- Hoaks dan polarisasi politik menghancurkan sila ketiga: Persatuan Indonesia.
- Musyawarah kadang kalah oleh kekuasaan absolut.
- Dan keadilan sosial masih jadi mimpi bagi sebagian besar rakyat.
Pertanyaannya kini: Apakah Pancasila hanya tinggal slogan? Atau masih ada di tangan rakyat?
Pancasila dalam Tangan Isi Bangsa
Yang disebut “isi bangsa” bukan hanya pejabat, bukan elite politik atau kaum akademisi. Isi bangsa adalah petani yang jujur, guru yang sabar, sopir ojek yang membantu, nelayan yang bekerja keras, anak muda yang peduli, dan ibu rumah tangga yang tabah. Mereka inilah pemilik sah Pancasila.
- Ketika warga saling membantu korban bencana tanpa memandang agama—itulah Pancasila.
- Ketika anak muda berdiskusi tanpa saling menjelekkan—itulah Pancasila.
- Ketika pejabat menolak korupsi dan memilih melayani—itulah Pancasila.
- Ketika kebijakan berpihak pada yang lemah—itulah keadilan sosial.
Pancasila bukan milik siapa-siapa. Ia milik kita semua. Dan selama ia hidup dalam tangan-tangan kecil yang jujur dan tulus, Indonesia akan tetap berdiri.
Menuju 100 Tahun Indonesia—Apa Tugas Kita?
Indonesia kini berdiri di persimpangan sejarah. Di usia 80 tahun, kita sudah melewati masa perang, krisis, reformasi, bahkan pandemi global. Tapi tantangan ke depan tidak kalah besar: krisis iklim, revolusi digital, disrupsi pekerjaan, radikalisme, dan polarisasi global.
Maka, Pancasila harus menjadi kompas, bukan hanya spanduk.
Tugas kita:
- Menanamkan Pancasila sejak dini, melalui pendidikan yang membebaskan dan memanusiakan.
- Menegakkan hukum secara adil, tanpa pandang bulu.
- Meningkatkan kesetaraan ekonomi dan akses sosial.
- Mencegah politisasi agama dan kebencian identitas.
- Menjadi warga aktif yang mengawasi, bukan sekadar mengikuti.
Epilog: Pancasila Tak Pernah Mati
Selama Pancasila hidup dalam laku, bukan hanya dalam buku
Selama ia dijaga oleh rakyat, bukan dikekang oleh politik
Selama ia dirawat oleh kasih, bukan ditunggangi ambisi
Maka Indonesia akan terus tumbuh, bukan hanya tua
Di usia 80 tahun ini, mari kita tidak bertanya “Masihkah Pancasila hidup?”,
Tapi bertanya pada diri:
“Masihkah kita mau menghidupkannya, setiap hari?”
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
