FK– Lewoleba 22- Agustus 2025, Di sebuah desa terpencil, seorang guru memilih berjalan kaki setiap hari demi sampai ke sekolah. Jalurnya tidak mudah: harus melintasi hutan, menyusuri jalan tanah, dan menyeberangi kali mati yang sewaktu-waktu berubah menjadi sungai banjir saat musim hujan datang. Tapi, ia tak pernah mengeluh.

Suatu hari, hujan deras mengguyur sejak dini hari. Kali mati itu berubah menjadi arus deras yang menakutkan. Sang guru tetap melangkah dengan hati-hati, membawa ransel tua berisi buku pelajaran dan catatan murid. Ia sempat terseret arus beberapa meter, tubuhnya memar, bajunya kotor, namun ia selamat. Tanpa menceritakan apapun kepada murid-muridnya, ia tetap berdiri di depan kelas dengan senyum tenang dan mengajar seperti biasa.

Beginilah realita etika dan karakter seorang guru di pelosok: mengabdi dalam senyap, menjaga tanggung jawab pedagogis meski dirinya sendiri terluka. Dalam seminggu, ia hanya punya dua pasang pakaian: kemeja abu-abu untuk Senin hingga Kamis, dan seragam olahraga untuk Jumat dan Sabtu. Namun penampilan sederhana itu menyimpan kekuatan: semangat mencerdaskan generasi.

Guru bukan sekadar pengajar. Ia adalah panutan, motivator, sekaligus pelindung masa depan bangsa. Tapi seringkali, guru diperlakukan seolah tanpa batas: harus sempurna, sabar, kuat, disiplin, inovatif, dan rela berkorban… setiap waktu. Masyarakat lupa bahwa guru juga manusia—memiliki rasa takut, kekhawatiran ekonomi, keluarga yang harus dihidupi, dan kesehatan yang rentan.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.