FKDi tengah terpencilnya wilayah pedalaman Papua, Monsinyur Datus Lega, Uskup Keuskupan Agung Manokwari-Sorong, menunjukkan dedikasi dan cinta pastoral yang luar biasa. Perjalanan pastoralnya ke Paroki Santo Andreas Ayata menjadi kisah inspiratif yang patut diabadikan.

Medan yang berat dengan jalan seadanya, hutan lebat, dan sungai yang harus diseberangi tak menghalangi Monsinyur Datus. Meski usianya tak lagi muda, rasa cinta kepada umat menjadi kekuatan yang mendorong langkahnya. Perjalanan ini mencerminkan teladan nyata seorang pemimpin gereja yang melayani dengan hati.

Bagi banyak orang, Monsinyur Datus adalah figur yang unik. Kehangatannya dirasakan oleh para imam yang sering kali menerima kunjungannya secara mendadak, lengkap dengan oleh-oleh sederhana, seperti ayam goreng atau kue kering. Kesaksian para imam dan umat mencerminkan betapa besar perhatian dan kepedulian beliau. Tak jarang, beliau bahkan menyetir sendiri untuk menjemput imam di bandara, sesuatu yang jarang dilakukan seorang uskup.

Monsinyur Datus berasal dari Manggarai, Flores, dengan latar belakang keluarga yang legendaris. Ayahnya, Frans Sales Lega, adalah sosok berpengaruh yang namanya diabadikan sebagai nama bandara di Ruteng. Warisan cinta pelayanan dan kesederhanaan ini terus mengalir dalam karya pastoral Monsinyur Datus.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.