Ungkapan Kasih itu subur. Koordinator Pengawas Pendidikan Menengah dan Khusus (Korwas Dikmen dan Diksus) Kabupaten Lembata, Yohanes Mamun, S.Pd., M.Pd.
FK – Lewoleba, 17 Juli 2025 – Di balik senyum ramah, tepuk tangan hangat, dan pelukan penuh cinta, tersirat makna mendalam bahwa pendidikan bukan sekadar proses intelektual, melainkan perjalanan hati dan jiwa. Itulah yang tergambar dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SLB Negeri Lewoleba Tahun Pelajaran 2025/2026. Dengan tema nasional “MPLS adalah MPLS Ramah”, kegiatan ini menegaskan kembali pentingnya pendidikan inklusif yang berlandaskan kasih, perhatian, dan penerimaan tanpa syarat.
Kegiatan MPLS resmi dibuka oleh Koordinator Pengawas Pendidikan Menengah dan Khusus (Korwas Dikmen dan Diksus) Kabupaten Lembata, Yohanes Mamun, S.Pd., M.Pd. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa SLB Negeri Lewoleba adalah tempat baru yang istimewa, bukan hanya karena bangunannya, tetapi karena di sinilah tumbuh benih-benih cinta pendidikan untuk anak-anak berkebutuhan khusus.
“MPLS harus ramah karena setiap langkah anak-anak kita di sekolah ini adalah cerita perjuangan, dan kita harus hadir menyambut mereka dengan hati yang terbuka,” ujar Yohanes Mamun, menggugah kesadaran semua pihak yang hadir.
Pendidikan yang Bertemu Jiwa dan Hati
Dalam suasana penuh kehangatan, Plt. Kepala SLB Negeri Lewoleba, Paulus Geradus Hurint, S.T., Gr juga menyampaikan sambutan yang penuh empati dan cinta kasih. Ia menyambut 19 peserta didik baru yang terdiri dari 7 siswa jenjang SDLB, 10 siswa jenjang SMPLB, dan 2 siswa jenjang SMALB.
“Anak-anak disabilitas bukanlah ciptaan Tuhan yang gagal. Mereka hanya perlu pengakuan, kesempatan, dan hak yang sama. Mereka adalah pelangi kehidupan yang indah dan penuh warna,” tegas Paulus dalam pidatonya yang menggugah.
Momentum yang Bermakna
MPLS kali ini menjadi momen emosional dan inspiratif. Para orang tua yang hadir tampak terharu ketika para guru dan staf tata usaha memperkenalkan diri satu per satu. Dalam acara tersebut, terlihat sinergi antara keluarga dan sekolah sebagai pondasi kuat pendidikan berkebutuhan khusus.
Foto bersama menjadi penutup acara pembukaan, bukan sekadar dokumentasi, tetapi simbol kebersamaan, persatuan, dan harapan akan masa depan yang lebih cerah bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
Berita Nasional
Terkini
10 Kunci Koperasi SUKSES
2.497 PPPK Tahap Kedua Pemprov NTT Resmi Terima SK pada 10 Desember 2025
NOVENA 9 HARI
DOA MEDITASI Jam 3 PAGI – ADVEN MINGGU KEDUA


