FK- “Setetes embun pagi mampu menyegarkan dedaunan. Demikian juga setetes cinta dan perhatian mampu menyegarkan jiwa anak-anak berkebutuhan khusus yang haus akan pengakuan dan kasih.”
Sebuah Pagi yang Penuh Berkah
Pagi itu, Sabtu, 21 Juni 2025, embun menyapa lembut atap-atap bangunan SLB Negeri Lewoleba. Di antara desir angin lembut dan cahaya mentari yang perlahan mengintip, suasana sekolah dipenuhi dengan semangat dan harapan. Suatu hari istimewa telah tiba: hari pembagian laporan hasil belajar siswa tahun pelajaran 2024/2025.
Namun, di SLB Negeri Lewoleba, hari ini bukan sekadar ajang untuk mengukur capaian akademik.
Ini adalah panggung penghormatan untuk perjalanan anak-anak berkebutuhan khusus yang telah melewati waktu penuh tantangan dengan semangat luar biasa. Mereka tidak hanya belajar membaca dan berhitung, tetapi juga belajar menjalani hidup, mengembangkan kemandirian, mengenali emosi, dan membentuk karakter sejati.
Di bawah langit biru yang cerah, siswa-siswi, para orangtua wali, guru-guru, staf tata usaha, dan pengurus komite sekolah berkumpul dalam satu suasana yang hangat. Plt. Kepala Sekolah, Bapak Paulus Geradus Hurint, S.T.,Gr., membuka acara dengan sambutan penuh inspirasi. Ia menyampaikan rasa syukur atas kerja sama semua pihak dalam mewujudkan pendidikan yang ramah dan bermartabat bagi anak-anak istimewa ini.
“SLB ini bukan pabrik nilai. Kita tidak mencetak produk. Kita merawat manusia dengan segala keunikan dan ketunaannya,” tegasnya dalam pidato yang mengundang haru.
Anak-Anak yang Luar Biasa
Di SLB Negeri Lewoleba, setiap anak adalah dunia yang unik. Mereka datang dari berbagai latar belakang, dengan kondisi yang berbeda-beda: tuna grahita, tuna rungu, tuna netra, autistik, slow learner, atau kombinasi dari beberapa kondisi. Namun satu hal yang pasti: mereka semua punya hak yang sama untuk belajar, dihargai, dan dicintai.
Jumlah siswa tahun pelajaran ini mencapai 30 orang, yang terdiri atas:
1. SD kelas 1 hingga kelas 5: 18 anak
2. SMP kelas 1 dan kelas 2: 10 anak
3. SMA kelas 1 dan kelas 2: 2 anak
Angka yang mungkin tampak kecil dibanding sekolah umum, tetapi makna di balik angka-angka itu sangat besar. Setiap anak di sini adalah wajah dari harapan dan bukti nyata bahwa pendidikan inklusif itu mungkin dan perlu.
Para guru SLB bukan hanya pengajar, mereka adalah mentor, pelindung, pembimbing spiritual, dan teman sejati. Mereka mengenal setiap anak dengan baik — bukan hanya dari catatan akademik, tetapi dari raut wajah, nada suara, bahasa tubuh, bahkan perubahan emosi sehari-hari. Mereka mengajar dengan hati, bukan hanya dengan kepala.
Ketua Komite: Pendidikan Harus Dilindungi
Dalam sambutannya, Ketua Komite SLB Negeri Lewoleba, Yos Bala Lamawato, menegaskan pentingnya perhatian terhadap anak-anak berkebutuhan khusus, terutama dalam hal pengadaan asrama yang layak. Banyak siswa berasal dari pelosok desa di wilayah Lembata, bahkan dari daerah terpencil yang aksesnya sulit.
“Kami para orangtua akan terus bekerja sama dengan sekolah dan pemerintah. Kami ingin anak-anak kami bisa belajar tanpa khawatir soal tempat tinggal atau kebutuhan sehari-hari,” katanya penuh harap.
Pernyataan ini bukan sekadar keinginan praktis. Ini adalah panggilan moral dan tanggung jawab kolektif untuk memastikan bahwa semua anak Indonesia, tanpa kecuali, mendapat layanan pendidikan yang setara.
Bukan Angka, Tapi Perjalanan
Dalam pendidikan umum, nilai rapor sering menjadi satu-satunya ukuran kesuksesan. Namun SLB Negeri Lewoleba memiliki pendekatan yang berbeda.
Guru dan staf tidak menilai anak-anak hanya dari angka di kertas. Mereka menilai dari proses belajar yang terus berkembang sesuai dengan potensi masing-masing.
Anak yang dulunya tidak mampu mengucapkan satu kata pun, kini sudah bisa menyebutkan nama sendiri.
Anak yang sebelumnya tidak bisa menulis huruf, kini telah mampu menyalin kalimat sederhana. Anak yang takut bersosialisasi, kini mulai bermain dan menyapa teman.
Bukankah itu bentuk prestasi yang paling murni?
Plt. Kepala Sekolah menegaskan bahwa pendidikan di SLB adalah tentang menumbuhkan nilai:
1. Nilai hidup: mencintai diri dan sesama
2. Nilai rasa ingin tahu: keberanian mengeksplorasi dunia
3. Nilai kemanusiaan: empati, kebaikan, dan solidaritas.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.
