BAB III METODE PENELITIAN

A. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SDN 251 Pae-Pae, Sulawesi Selatan, selama satu semester, yaitu dari bulan Juli hingga Desember 2019. Fokus utama penelitian ini adalah meningkatkan pemahaman siswa kelas IV terhadap cerita Kitab Suci melalui penggunaan media gambar sebagai alat bantu pembelajaran.

B. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IV SDN 251 Pae-Pae, dengan jumlah keseluruhan 30 orang siswa, yang berusia antara 9 hingga 10 tahun. Siswa pada tahap usia ini berada dalam fase perkembangan kognitif yang memungkinkan mereka untuk memahami dan mengapresiasi isi cerita Kitab Suci, khususnya melalui bantuan media visual. Jumlah peserta didik yang cukup ini dianggap mewakili untuk mengukur efektivitas penggunaan media gambar dalam pembelajaran.

C. Prosedur Penelitian

Penelitian tindakan kelas (PTK) ini dilakukan melalui tiga siklus, di mana masing-masing siklus meliputi tahapan: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi.

1. Persiapan Tindakan

Kegiatan awal dalam penelitian ini mencakup:

  • Menyusun rencana tindakan dengan menetapkan tujuan penelitian, metode pelaksanaan, dan media pembelajaran yang akan digunakan.
  • Menyiapkan media gambar yang relevan dan menarik sesuai dengan cerita-cerita Kitab Suci yang akan diajarkan.
  • Membuat instrumen penelitian seperti lembar observasi, angket pemahaman siswa, dan pedoman wawancara.
  • Melakukan sosialisasi kepada guru kelas dan siswa mengenai maksud dan prosedur pelaksanaan penelitian.

2. Pelaksanaan Tindakan pada Setiap Siklus

Siklus 1:

  • Perencanaan: Menentukan cerita Kitab Suci “Kisah Samuel” dan menyiapkan pembelajaran tanpa media gambar.
  • Pelaksanaan: Melaksanakan proses pembelajaran tanpa bantuan media gambar.
  • Observasi: Mengamati keaktifan dan pemahaman siswa selama proses pembelajaran.
  • Refleksi: Menganalisis hasil observasi dan tingkat pemahaman siswa untuk mengidentifikasi kekurangan dan merumuskan perbaikan pada siklus selanjutnya.

Siklus 2:

  • Perencanaan: Merevisi pendekatan pembelajaran dengan menyertakan media gambar pada cerita “Kisah Saul”.
  • Pelaksanaan: Melaksanakan pembelajaran menggunakan media gambar yang telah disiapkan.
  • Observasi: Mengamati perubahan keaktifan siswa serta efektivitas media gambar dalam meningkatkan pemahaman.
  • Refleksi: Mengevaluasi peningkatan pemahaman siswa, efektivitas tindakan yang diterapkan, dan mengidentifikasi aspek yang masih perlu diperbaiki.

Siklus 3:

  • Perencanaan: Menyempurnakan media gambar berdasarkan hasil refleksi siklus 2 dan memilih cerita Kitab Suci berikutnya.
  • Pelaksanaan: Melaksanakan pembelajaran dengan media gambar yang telah disempurnakan.
  • Observasi: Mencatat peningkatan keaktifan dan pemahaman siswa selama proses belajar berlangsung.
  • Refleksi: Melakukan analisis akhir terhadap hasil belajar siswa dan efektivitas media gambar, kemudian menyusun kesimpulan dari keseluruhan proses penelitian.

3. Pemantauan (Observasi)

Selama proses penelitian, observasi dilakukan untuk mencatat partisipasi siswa, respons mereka terhadap media gambar, serta tingkat pemahaman mereka terhadap materi. Observasi dilakukan menggunakan lembar observasi yang telah disusun sebelumnya. Selain itu, siswa juga diminta untuk mengisi angket sebelum dan sesudah pelaksanaan setiap siklus guna mengukur peningkatan pemahaman mereka. Wawancara singkat dilakukan dengan beberapa siswa untuk mendapatkan masukan langsung mengenai pengalaman belajar mereka, kendala yang dihadapi, serta saran untuk perbaikan.

4. Analisis dan Refleksi

Data yang diperoleh dari lembar observasi, angket, dan wawancara dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif untuk mengidentifikasi tren dan perubahan pemahaman siswa pada setiap siklus. Analisis ini membandingkan tingkat pemahaman siswa sebelum dan sesudah tindakan, serta mengevaluasi efektivitas media gambar dalam meningkatkan keterlibatan dan pemahaman siswa terhadap cerita Kitab Suci.

Refleksi dilakukan berdasarkan hasil analisis untuk menilai keberhasilan tindakan, mengevaluasi pendekatan pembelajaran, dan menentukan aspek yang perlu disempurnakan. Refleksi juga menjadi dasar dalam menyusun rekomendasi akhir, yang bertujuan untuk pengembangan pembelajaran Kitab Suci menggunakan media gambar di masa depan.

 

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Siklus Pertama

  1. Observasi dan Pemantauan
    Pada siklus pertama, cerita Kitab Suci tentang kisah Samuel disampaikan kepada siswa tanpa menggunakan media gambar. Berdasarkan hasil observasi, tampak bahwa siswa kurang tertarik dengan materi yang disampaikan. Banyak siswa terlihat pasif dan mengalami kesulitan dalam memahami isi cerita Kitab Suci. Berdasarkan angket yang dibagikan, tingkat pemahaman siswa terhadap isi cerita hanya mencapai sekitar 20%. Hasil wawancara singkat juga mengungkapkan bahwa beberapa siswa tidak dapat mengingat cerita dengan baik dan merasa membutuhkan lebih banyak penjelasan.
  2. Refleksi
    Dari hasil observasi dan umpan balik siswa, dapat disimpulkan bahwa penyampaian cerita Kitab Suci tanpa media gambar tidak cukup menarik perhatian siswa. Oleh karena itu, dibutuhkan perbaikan dalam metode penyajian agar cerita menjadi lebih menarik dan mudah dipahami. Hal ini menjadi dasar untuk pelaksanaan siklus kedua dengan pendekatan yang berbeda.

 

B. Hasil Siklus Kedua

  1. Observasi dan Pemantauan
    Pada siklus kedua, diterapkan media cerita bergambar sebagai tindak lanjut dari refleksi siklus pertama. Gambar-gambar dibuat sesuai dengan urutan cerita untuk memudahkan pemahaman siswa. Hasil observasi menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam keaktifan dan partisipasi siswa selama proses pembelajaran. Tingkat pemahaman siswa meningkat menjadi sekitar 40%. Angket yang disebarkan menunjukkan bahwa siswa lebih menikmati pembelajaran dengan menggunakan media gambar. Wawancara dengan siswa mengungkapkan bahwa mereka lebih mudah memahami alur cerita dan mampu mengingat serta menceritakan kembali isi cerita dengan lebih baik.
  2. Refleksi
    Penggunaan media cerita bergambar terbukti lebih efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa. Namun demikian, masih terdapat beberapa siswa yang memerlukan bantuan tambahan untuk mengaitkan cerita dengan kehidupan sehari-hari mereka. Hal ini menjadi dasar untuk penyempurnaan pada siklus berikutnya.

 

C. Hasil Siklus Ketiga

  1. Observasi dan Pemantauan
    Pada siklus ketiga, media cerita bergambar disempurnakan dengan menambahkan konteks kehidupan nyata siswa agar cerita Kitab Suci lebih relevan dan membumi. Hasil observasi menunjukkan bahwa keaktifan siswa semakin meningkat, dengan hampir semua siswa terlibat aktif dalam diskusi. Tingkat pemahaman siswa terhadap isi cerita meningkat menjadi sekitar 60%. Angket menunjukkan tingkat kepuasan siswa yang sangat tinggi. Wawancara mendalam dengan siswa juga menunjukkan bahwa mereka merasa lebih terinspirasi dan lebih mudah memahami pesan moral dari cerita Kitab Suci.
  2. Refleksi
    Siklus ketiga menunjukkan bahwa penggunaan media cerita bergambar yang dilengkapi dengan konteks kehidupan sehari-hari sangat efektif dalam meningkatkan pemahaman dan keterlibatan siswa. Media ini berhasil menghubungkan isi cerita Kitab Suci dengan pengalaman pribadi siswa, sehingga pesan moral lebih mudah dipahami dan diinternalisasi.

 

D. Tabel Hasil Penilaian Siswa Berdasarkan Tiga Siklus

No Nama Siswa Nilai Siklus 1 Nilai Siklus 2 Nilai Siklus 3
1 Novita 40 60 80
2 Geraldi 43 65 78
3 Jansi Tandi Sauran 50 75 88
4 Novi 40 50 70
5 Dira 55 70 90
6 Revandi 50 60 80

 

E. Diagram Batang – Peningkatan Pemahaman Siswa

  • Siklus Pertama: 47%
  • Siklus Kedua: 64%
  • Siklus Ketiga: 80%

 

F. Analisis Peningkatan

  1. Siklus Pertama (47%)
    Cerita Kitab Suci disampaikan secara verbal tanpa media gambar. Pemahaman siswa rendah karena cerita kurang menarik dan sulit dipahami.
  2. Siklus Kedua (64%)
    Setelah menggunakan media cerita bergambar, pemahaman siswa meningkat secara signifikan. Mereka lebih aktif, mudah memahami, dan mengingat isi cerita.
  3. Siklus Ketiga (80%)
    Media disempurnakan dengan mengaitkan cerita Kitab Suci dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini membuat siswa semakin terlibat aktif, mampu memahami pesan moral, dan menghubungkannya dengan pengalaman pribadi.

 

G. Simpulan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media cerita bergambar memberikan kontribusi signifikan dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap cerita Kitab Suci. Media ini membuat siswa lebih tertarik, aktif dalam pembelajaran, serta mampu memahami dan mengingat cerita dengan lebih baik. Penambahan konteks kehidupan sehari-hari semakin memperkuat keterhubungan antara cerita Kitab Suci dan pengalaman pribadi siswa, sehingga nilai-nilai moral dalam cerita dapat lebih mudah dihayati dan diterapkan.

Keterangan:

  • Nilai Siklus I (47%)
    Merupakan nilai awal siswa sebelum penggunaan media cerita bergambar. Pada tahap ini, cerita Kitab Suci disampaikan secara verbal tanpa media visual.
  • Nilai Siklus II (64%)
    Merupakan nilai setelah penggunaan media cerita bergambar dalam pembelajaran. Penerapan media ini mulai menunjukkan dampak positif terhadap peningkatan pemahaman siswa.
  • Nilai Siklus III (80%)
    Merupakan nilai setelah media cerita bergambar disempurnakan dengan tambahan konteks kehidupan sehari-hari. Peningkatan ini menunjukkan efektivitas penyempurnaan media dalam menghubungkan isi cerita dengan pengalaman pribadi siswa.

 

  1. Pembahasan
  2. Efektivitas Media Cerita Bergambar
    Penggunaan media cerita bergambar terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman siswa kelas IV terhadap cerita Kitab Suci. Media ini membuat siswa lebih tertarik dan membantu mereka dalam mengingat serta memahami isi cerita secara lebih baik. Visualisasi cerita membantu menjembatani pemahaman konsep-konsep abstrak menjadi lebih konkret.
  3. Peningkatan Bertahap
    Setiap siklus menunjukkan peningkatan pemahaman dan keterlibatan siswa. Hal ini mencerminkan efektivitas evaluasi dan perbaikan media dari satu siklus ke siklus berikutnya. Proses perbaikan berkelanjutan tersebut memberikan kontribusi signifikan terhadap pencapaian hasil yang optimal.
  4. Konteks Kehidupan Sehari-hari
    Menambahkan unsur kehidupan sehari-hari dalam media cerita bergambar membuat siswa lebih mudah menghubungkan cerita Kitab Suci dengan pengalaman hidup mereka. Ini mendorong motivasi intrinsik, meningkatkan partisipasi aktif, dan memperkuat pemahaman terhadap pesan moral yang ingin disampaikan.
  5. Rekomendasi
    Berdasarkan hasil penelitian, disarankan agar media cerita bergambar terus digunakan dan dikembangkan dalam pembelajaran cerita Kitab Suci. Guru juga dianjurkan untuk mengaitkan isi cerita dengan kehidupan nyata siswa agar pemahaman nilai moral dan spiritual dapat tertanam lebih dalam dan aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.
  6. Kesimpulan Umum
    Hasil penelitian menunjukkan bahwa media cerita bergambar sangat membantu dalam meningkatkan pemahaman siswa terhadap cerita Kitab Suci. Dengan metode ini, siswa menjadi lebih tertarik, aktif, serta lebih mudah dalam mengingat dan memahami isi cerita secara menyeluruh.

BAB V: SIMPULAN DAN SARAN

 

  1. Simpulan

Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan media cerita bergambar secara signifikan meningkatkan pemahaman siswa kelas IV terhadap cerita Kitab Suci. Melalui tiga siklus penelitian, terlihat bahwa media ini tidak hanya menarik perhatian siswa, tetapi juga membantu mereka dalam mengingat dan memahami cerita dengan lebih baik. Setiap siklus menunjukkan peningkatan bertahap dalam pemahaman dan keterlibatan siswa. Revisi media berdasarkan refleksi dari setiap siklus sangat penting untuk mencapai hasil yang optimal. Selain itu, menambahkan konteks kehidupan sehari-hari dalam penyampaian cerita terbukti efektif, karena hal ini membantu siswa melihat relevansi cerita dengan kehidupan mereka, sehingga mereka merasa lebih termotivasi dan terinspirasi.

 

  1. Saran
  2. Pengembangan Media Cerita Bergambar:
    Guru disarankan untuk terus menggunakan dan mengembangkan media cerita bergambar dalam pembelajaran Kitab Suci. Media ini terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman dan keterlibatan siswa. Dengan pengembangan lebih lanjut, media ini dapat menjadi alat yang lebih efektif dalam proses pembelajaran.
  3. Penyempurnaan Penyajian Cerita:
    Penyajian cerita perlu terus disempurnakan agar lebih jelas dan terstruktur. Detail gambar yang lebih mendalam dan urutan cerita yang logis akan membantu siswa menghubungkan gambar dengan isi cerita Kitab Suci dengan lebih mudah. Penyajian yang jelas akan membuat siswa lebih mudah mengikuti dan memahami pesan yang ingin disampaikan.
  4. Konteks Kehidupan Sehari-hari:
    Guru perlu terus menghubungkan cerita Kitab Suci dengan pengalaman nyata siswa. Hal ini membantu siswa memahami relevansi cerita dengan kehidupan mereka, yang pada gilirannya meningkatkan pemahaman dan penerimaan pesan moral yang terkandung dalam cerita tersebut.
  5. Bantuan Tambahan:
    Untuk siswa yang masih membutuhkan bantuan lebih lanjut, guru dapat memberikan penjelasan tambahan dan menggunakan metode pembelajaran yang berbeda. Penggunaan metode yang bervariasi akan membantu memastikan semua siswa dapat memahami cerita dengan baik, meskipun dengan kecepatan atau cara belajar yang berbeda.
  6. Evaluasi Berkelanjutan:
    Diperlukan evaluasi secara berkelanjutan terhadap penggunaan media cerita bergambar dan perbaikan berkelanjutan berdasarkan umpan balik dari siswa serta hasil observasi. Evaluasi ini sangat penting untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan memastikan bahwa metode yang digunakan memberikan hasil yang optimal.

Dengan menerapkan saran-saran ini, diharapkan pemahaman siswa terhadap cerita Kitab Suci dapat terus meningkat, dan pembelajaran agama menjadi lebih menarik serta relevan bagi siswa. Implementasi dari saran ini diharapkan juga dapat memperkaya pengalaman belajar siswa dan membantu mereka lebih mudah memahami nilai-nilai moral dalam cerita Kitab Suci.

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.