Kepala SMP Negeri Satu Atap Oekiu
Ibu Medyaktris S. Rilale, SE., Gr.
Aegrotum te simulas
ut scholam non frequentare debeas,
parentes autem tui
se sanos simulant ut
scholam frequentare possis.
(Kamu pura-pura sakit
biar tidak sekolah,
tapi orang tua kamu pura-pura sehat
agar kamu bisa sekolah)
FK – Sebuah Awal Penuh Arti di Kaki Langit Nifuleo
Di bawah langit cerah Desa Nifuleo, Kecamatan Amanatun Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan, 29 anak bangsa melangkah masuk dalam lingkungan baru yang akan membentuk jati diri mereka: SMP Negeri Satu Atap Oekiu. Dari berbagai latar belakang SD yang berbeda—SD Negeri Oekiu, SDK Yaswari Fatuhilik, SD GMIT To’i, dan SD Inpres Oepnion—mereka kini melebur dalam satu semangat dan satu nama: Sahabat Baru SMP Satap Oekiu.
Momentum ini dikukuhkan melalui kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang diselenggarakan selama 5 hari (14–18 Juli 2025), di mana 29 siswa (13 laki-laki dan 16 perempuan) disatukan dalam semangat pengabdian, pembinaan karakter, dan cinta akan belajar.
Namun lebih dari sekadar rutinitas pendidikan, MPLS tahun ini menjadi sebuah ritus penyalaan pelita, ketika guru menjadi pelita dan anak-anak menjadi cahayanya.
Ibu Kepala Sekolah dan Guru: Penjaga Pelita, Pekerja Kasih
Di balik kesuksesan MPLS ini, berdiri Ibu Medyaktris S. Rilale, SE., Gr., Kepala Sekolah yang bukan hanya sebagai administrator, tetapi pelindung dan penasehat bagi para siswa dan guru. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan dengan penuh kasih:
“Kita bukan sekadar menyambut siswa baru, kita sedang mempersiapkan cahaya masa depan. Mereka datang sebagai anak-anak, dan akan kita dampingi menjadi pribadi penuh karakter dan harapan.”
Sementara itu, Bapak dan Ibu Guru hadir dengan wajah berseri dan hati penuh semangat. Dalam wajah mereka terpancar cinta, dalam langkah mereka terukir dedikasi, dan dalam tutur mereka terjalin harapan. Mereka membawa berbagai metode pedagogik dan pendekatan kreatif, menyemai nilai dan ilmu tanpa pamrih.
“Guru bukan hanya pengajar, tetapi pelita. Dan jiwa murid adalah penerang dari cahaya pelita itu.”
Mereka menyulut nyala semangat di hati 29 siswa—bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan sikap tulus, pelayanan tanpa batas, dan komitmen untuk selalu hadir dalam suka dan duka proses belajar.
Pelita, Minyak, dan Sumbu: Simbol dalam Jejak MPLS
Dalam perenungan simbolis, MPLS ini seperti sebuah penyalaan lentera. Setiap siswa menerima:
- Minyak: ilmu dan bimbingan yang diberikan
- Sumbu dari kapas: hati yang lembut dan siap menyerap nilai
- Korek api: semangat dari guru yang memantik cinta akan belajar
Dengan itu, mereka kini memegang lentera yang menyala – menerangi jalan pendidikan mereka sendiri di bawah bimbingan para guru.
Mereka bukan lagi anak-anak biasa. Mereka adalah 29 pelita muda, yang siap membawa cahaya ke ruang-ruang belajar, lapangan, hingga kehidupan bermasyarakat.
Rangkaian Kegiatan dan Makna
Kegiatan MPLS dilaksanakan dengan penuh semangat dan makna. Dimulai dari senam pagi, pengenalan guru dan lingkungan sekolah, pemahaman tata tertib, hingga kegiatan pembinaan karakter.
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.

