FKKampung Lewo Lete, kini dikenal sebagai wilayah keramat yang diselimuti rumpun bambu dan dijaga oleh Moyang Lete, menyimpan kisah tragis nan mistis yang hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Suku Karang dan Roning, khususnya di Desa Lusilame, Kampung Atawolo. Sebuah peristiwa luar biasa yang tak tercatat dalam sejarah resmi bencana dunia, namun tetap menggetarkan bagi mereka yang mendengarnya: tenggelamnya Kampung Lewo Lete akibat tarian tandak yang diganggu oleh seekor ajing (anjing).

Kisah Awal Tandak

Tandak atau Hamang adalah tarian tradisional khas masyarakat Lewo Lete, ditarikan dengan membentuk lingkaran besar — tangan saling bergandengan, bergerak dalam irama yang riang, mencerminkan persatuan dan suka cita. Pada suatu perhelatan budaya yang meriah, masyarakat sedang larut dalam sukacita menari tandak. Namun suasana berubah menjadi mencekam ketika seekor ajing misterius masuk ke dalam lingkaran itu.

Masuknya Ajing Ajaib

Awalnya, ajing itu berlarian di tengah lingkaran. Dihalau oleh para penari, namun ia justru semakin liar dan menyatu dalam putaran. Didorong oleh rasa penasaran dan emosi, seseorang berseru, “Kalau engkau ajing baik, coba buatkan satu pantun!”

Yang tak terduga pun terjadi. Ajing itu melesat keluar dari lingkaran, kemudian kembali — kini mengenakan kenarang, hiasan leher yang biasanya digunakan dalam ritual. Yang lebih mengejutkan, di ekornya tergantung kawok, benda yang menyerupai abu dapur, dan dari kepalanya tampak rupa manusia yang cantik.

Pantun Ajaib Sang Ajing

Di tengah keheningan yang aneh dan penuh ketegangan, ajing itu mengeluarkan suara—awalnya seperti gonggongan, lalu berubah menjadi lantunan mantra pantun yang memukau dan menyeramkan. Berikut cuplikan pantunnya:

 

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.