Ao ao go keAo ao go benoti dorekoooo…
Ao ao go benote kawok ooo…
Ao ao go kenaran gawak luran lolo…
Go todo todo bati ie enei ore…
Ak merang geto merang bihak er eka kei terang apeken ao ao…
Naro lei anakei wuhun terekak gaw wuhun loloi bulurek Lewo Lete gener tea rooo oa ao ooooo…

Suara ajing tersebut menggema dan merasuk ke hati para penari. Tarian menjadi semakin gegap gempita. Dalam hitungan detik, lingkaran tandak runtuh dan kampung Lewo Lete tenggelam ke dalam bumi.

Korban dan Yang Selamat

Tragedi itu hanya menyisakan empat orang: satu perempuan dan tiga laki-laki, yang berhasil luput dari bencana. Sejak saat itu, tempat tersebut diyakini menjadi kampung keramat, dijaga oleh arwah nenek moyang, terutama Moyang Lete, leluhur dari Suku Karang dan Roning.

Rubo Luku oooo…Pesan dalam Legenda

Kisah ini menjadi pengingat bahwa tradisi dan budaya tak hanya menyimpan nilai estetika, tetapi juga memuat dimensi spiritual dan peringatan leluhur. Kampung Lewo Lete bukan hanya kisah tentang bencana, melainkan peristiwa sakral yang mengajarkan kehati-hatian dalam menjaga harmoni dengan alam dan dunia roh.[Gutun]

Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan Ikuti Kami Subscribe

CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.